Rabu, 15 Mei 2013

PERADABAN ISLAM PADA MASA KERAJAAN SYAFAWI DI PERSIA


A.      PENDAHULUAN
Jika disinggung tentang kemajuan Islam barang kali kita sepakat bahwa Syafawi  merupakan salah satu kerajaan yang mewarnai gemilangnya Islam di masa lampau, kedigjayaan Syafawi  tidak diragukan, menghasilkan banyak kontribusi dalam berbagai aspek, namun jika diajak untuk sepakat mengatakan sepemikiran terhadap mazhab yang dianut oleh orang-orang Syafawi  waktu itu, maka banyaklah yang mengatakan kami bukan orang syi’ah. Untung saja pembahasan kali ini mengajak kita menyingkap yang tersirat baik dari ketidaktahuan atau keterlupaan kita terhadap sejarah kerajaan Syafawi, sehingga Pemahaman agama hanyalah sebahagian dari hal-hal yang akan diungkapkan.
Dalam kurun waktu 1500-1800 M, hampir secara bersamaan muncullah tiga kerajaan besar di tiga wilayah Islam yang berbeda sebagai kelanjutan dari rantai peradaban Islam yang sebelumnya telah dijalin oleh Dinasti Umawiyah dan Dinasti Abbasiyah. Ketiga kerajaan besar tersebut adalah Kerajaan Usmani  di Turki, Kerajaan Shafawi di Persia dan Kerajaan Mughal di India.
Kerajaan Syafawi  di Persia hingga saat ini memiliki bentuk peninggalan yang unik dan variatif. Mulai dari pergantian kekuasaan dari satu pimpinan ke pemimpin yang lain dengan pola strategi pemerintahan politik yang berbeda hingga perubahan sistem pemerintahan Monarkhi menjadi Republik (Republik  Iran).
Terdapat perbedaan pendapat mengenai asal usul kata Shafawi. Menurut Sayid Amir Ali, kata Shafawi berasal dari kata Shafi, suatu gelar bagi nenek moyang raja-raja Shafawi, Sayid Amir Ali mengatakan bahwa para Musafir, Pedagang dan Penulis Eropa selalu menyebut raja-raja Shafawi dengan gelar Shafi Agung. Sedangkan menurut P. M. Holt, kata Shafi bukanlah gelar dari pemimpin seperti yang disebut, akan tetapi kata Shafi merupakan bagian dari nama Shafi al-Din Ishak al-Ardabily sendiri (1252 – 1334 M / 650 - 735 H)[1] , pendiri dan pemimpin Tarekat Shafawiyah. Satu kesimpulan yang penulis tarik adalah bahwa nama Shafawi dinisbatkan kepada Shafi al-Din Ishak al-Ardabily[2].      Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, Syafawi  dalam berbagai aspek akan dibahas, semoga ketidaktahuan kita terhadap bagian Peradaban Dinasti Syafawi  akan terjawab di sini.  

B.       PEMBAHASAN
1.    Latar Belakang
Berawal  dari masuknya Islam ke Persia pada zaman Abu bakar yang berhasil menaklukkan Qadisiah, ibu kota dinasti Sasan (637 M), bagian kecil dari Sasaniah yaitu Baduspaniah bertahan hingga abad 16 Masehi. Di samping itu sebelum Syafawi , di Persia terdapat kerajaan lokal (distrik) yang berada di bawah dinasti-dinasti yang lebih besar, hingga menjadi kekuasaan yang lebih besar seperti dinasti Saljuk, Tabaristan, Rawadiah, Thahiriyah, Safariyah, dan Buwaihi. Di masa Timur Lenk wilayah tersebut bernama dinasti Timuriah (1370-1506) sepeninggalannya (1405) Timuriah pecah menjadi dua , dipimpin oleh Ulugh Bek (1404-1449 M) dan Sultan Husen. Dinasti ini tidak stabil karena Mongol dan Turki campur tangan, oleh karena itu, kelompok yang tidak puas mencoba melakukan gerakan-gerakan. Salah satunya adalah gerakan tarekat Syafawi  yang dipimpin oleh Syaikh Syafi’ al Din (1252-1334 M)[3].
            Pada awalnya gerakan tarekat safawi ini adalah bertujuan untuk memerangi orang-orang yang ingkar. Kemudian memerangi golongan yang mereka sebut ahli-ahli bid’ah. Suatu ajaran yang dipegang secara fanatik biasanya kerap kali menimbulkan keinginan di kalangan para penganut ajaran itu untuk berkuasa. Karena itu lama-kelamaan murid-murid tarekat Safawiyah berubah menjadi tentara yang terorganisir[4], fanatik dalam kepercayaan dan menantang setiap orang yang bermazhab berbeda atau selain mereka[5].
            Kecenderungan memasuki dunia politik itu dapat terwujud pada masa kepemimpinan  Juned (1447M-1460M). Safawi memperluas gerakannya dengan menambahkan kegiatan politik pada kegiatan keagamaan. Perluasan wilayah ini menimbulkan konflik dengan Karo Koyunlu dan Juned kalah, akhirnya dia diasingkan ke suatu tempat. Ditempat itu dia mendapatkan perlindungan dan bantuan dari para penguasa Diyar Bakr, Ak-Koyulu. Selama dalam pengasingan, Juned menghimpun kekuatan untuk kemudian beraliansi secara politik dengan Uzun Hasan.  Juned juga berhasil mempersunting sepupu Uzun Hasan  dan memiliki Putra bernama Haidar. Kemudian Juned terbunuh pada saat mencoba merebut Sisilia[6].
            Haidar menggantikan ayahnya dalam memimpin Syafawi sebagai sebuah kekuatan politik dan militer. Dalam melanjutkan hubungan dengan Uzun Hasan tidak cukup sampai pernikahan ayahnya dengan Adik Uzun Hasan saja, bahkan Haidar menikahi salah satu putri Uzun Hasan. Dari perkawinan ini melahirkan  tiga orang putra Ali, Ibrahim dan Ismail[7].
            Kemenangan Ak Koyunlu tahun 1476 terhadap Kara Koyunlu memandang gerakan Syafawi  yang dipimpin Haidar sebagai rival politik bagi AK Koyunlu dalam meraih kekuasaan selanjutnya[8]. Karena itu ketika Syafawi  menyerang wilayah Sircassia dan Sirwan, AK Koyunlu malah mengirimkan bantuan militer untuk membantu Sirwan sehingga pasukan Syafawi  kalah dan Haedar terbunuh. Inilah mulanya perpecahan antara dua sekutu Syafawi dan Ak Koyunlu.
            Ali, putra Haidar dintuntut pasukannya untuk menuntut balas atas kematian Haidar. Tetapi Ya’kub, pemimpin Ak Koyunlu berhasil menangkap Ali bersama saudaranya Ibrahim dan Ismail serta ibunya di Fars selama empat setengah tahun (1489-1493). Mereka dibebaskan oleh Rustam, putra mahkota AK Koyunlu, dengan syarat mau membantu membebaskan sepupunya. Ali kembali ke Ardabil setelah saudara sepupu Rustam dikalahkan. Namun selanjutnya Rustam berbalik memusuhi Ali bersaudara yang menyebabkan kematian Ali (1494)[9] dan digantikan oleh adiknya Ismail, Ismail naik menggantikannya meski baru tujuh tahun. Ia menyiapkan pasukannya yang dinamai Qizilbas h (Baret Merah) yang dibentuk oleh ayahnya Haidar.
            Di bawah pimpinan Ismail pada tahun 1501 M berhasil mengalahkan Ak-Konyulu di Sharur dan berhasil merebut ibu kotanya yaitu Tabriz dan di tempat itu dia memproklamirkan dirinya sebagai raja pertama dinasti Safawi (disebut Ismail I). Ismail I berkuasa selama 23 tahun. Dalam waktu 10 tahun Ismail sudah mampu memperluas kekuasannya hingga seluruh Persia[10].
            Ismail digantikan oleh anaknya Tahmasp I [11], Tahmasp merupakan pengganti Ismail yang memang sudah dipersiapkan dan diunggulkan dari saudara-saudaranya,  karena beliau adalah putra tertua[12] bahkan beliau naik tahta pada hari yang sama saat ayahnya Isma’il I mangkat, padahal saat itu  Tahmasp masih berumur sepuluh tahun[13].
            Tahmasp memerintah selama  52 tahun,  menjelang wafatnya Tahmasp mengalami sakit keras, pada masa ini pasukan Qizilbas h terpecah menjadi dua kubu, satu diantaranya kelompok yang memihak Ismail Mirza dan lainnya memihak kepada Haidar Mirza. Dalam hal ini Tahmasp memilih Haidar Mirza putra ke tiganya sebaga calon penggantinya. Namun Ismail melakukan penolakan dan perlawanan pada saat penobatan Haidar  menjadi khalifah(Syah) hingga akhirnya Haidar terbunuh, dan Isma’il naik Tahta dengan gelar Isma’il II[14].
            Setelah setahun menjabat , Isma’il wafat dan digantikan oleh Muhammad Khudabanda Putra pertama Tahmasp I atas penunjukan para pejabat Negara[15]. Khudabanda menjabat lebih kurang sepuluh tahun lamanya, kemudian digantikan oleh Syah Abbas I. Syah Abbas I memerintah selama kurang lebih 41 tahun, selama pemerintahannya, Syafawi  berada pada tatanan yang penuh dengan kemajuan, perbaikan urusan administrasi, diplomasi luar negeri dan lain-lain
            Sebelum Abbas I, Persaingan antara Syafawi  dengan Turki Usmani selalu terjadi, ditandai dengan perang yang berkepanjangan, peperangan dimulai sejak kepemimpinan Ismail I (1501-1524 M), lalu Tahmasp I (1524-1576 M), Isma’il (1576-1577 M) dan Muhammad Khudabanda (1577-1587) Akhirnya, Abbas I (1588-1628 M) melakukan perjanjian dengan Turki Usmani sehingga mengakhiri perang yang biasanya terjadi[16]. Secara umum di Zaman Syah Abas I terjadi stabilitas Negara dan Perdamaian dengan Turki Usmani  dan dinasti Moghul.
[
2.    Kemajuan di Bidang Politik dan Pemerintahan
            Sebagaimana lazimnya kekuatan politik suatu negara ditentukan oleh kekuatan angkatan bersenjata, pembenahan administrasi Negara, penguatan system pertahanan ibukota dan hubungan diplomasi dengan negara lain, serta menjaga agar tidak terjadinya perpecahan[17]. Inilah secara umum lima hal yang dilakukan Syah Abbas I dalam menjamin kemajuan dinasti Syafawi . Syah Abbas I juga telah melakukan langkah politiknya yang pertama, membangun angkatan bersenjata Dinasti Shafawi yang kuat, besar dan modern.
            Tentara Qizilbas  yang pernah menjadi tulang punggung dinasti Shafawi yang besar, seiring waktu tidak terlalu berpengaruh dalam bidang pertahanan dan keamanan, melainkan hanya menjadi semacam tentara nonreguler yang tidak bisa diharapkan lagi untuk menopang citra politik syah yang besar. Untuk itu dibangun suatu angkatan bersenjata reguler. Inti satuan militer ini direkrutnya dari bekas tawanan perang bekas orang-orang Kristen di Georgia dan Circhasia yang sudah mulai dibawa ke Persia sejak Syah Tahmasab (1524-1576 M), mereka diberi gelar “Ghulam”. Mereka dibina dengan pendidikan militer yang militan dan dipersenjatai secara modern. Sebagai pimpinannya, Syah Abbas mengangkat Allahwardi Khan, salah seorang dari Ghulam itu sendiri.
            Dalam membangun Ghulam, Syah Abbas mendapat dukungan dari dua orang Inggris, Yaitu Sir Anthony Shearli dan saudaranya, Sir Robert Shearli. Mereka yang mengajari tentara Shafawi untuk membuat meriam sebagai perlengkapan tentara modern. Kedatangan kedua orang Inggris tersebut oleh sebagian sejarawan dipandang sebagai usaha strategis Inggris untuk melemahkan pengaruh Turki Usmani  di Eropa yang menjadi musuh besar Inggris saat itu. Namun kepercayaan diri Syah Abbas tetap ada, karena memiliki tentara (Ghulam) yang bisa diandalkan.
            Secara administrasi, struktur organisasi pemerintahan Syafawi  secara horizontal didasarkan pada garis kesukuan/kedaerahan. Dan secara vertical mencakup dua jenis, yaitu Istana dan Sekretariat Negara.
            Dalam hal kesukuan, Qizilbasy (suku Turki) merupakan bangsawan Militer, Qizilbasy mendapat posisi strategis hingga masa Muhammad Khdabanda (berakhir pada 1587 M). Suku Tajik memegang posisi di kementrian dan Sekretariat Negara (sebagai dewan Amir yang meliputi Amir, wazir, sejarawan istana, sekretaris pribadi syah, dan kepala intelijen), akuntan, pegawai administrasi, pengumpul pajak dan administrasi keuangan, dan suku Persia menjabat sebagai Sadr (ketua Lembaga Agama)[18]

3.    Ekonomi  dan Perdagangan
            Dalam bidang ekonomi terjadi perkembangan ekonomi yang pesat setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan nama pelabuhan “Gumrun” akhirnya diubah menjadi Bandar Abbas.
            Sebagai pelabuhan utama wilayah ini mampu menjamin kehidupan perekonomian Safawi. Hal ini dikarenakan bandar tersebut merupakan salah satu jalur dagang yang strategis antara timur dan barat yang biasanya menjadi daerah perebutan belanda Inggris dan Prancis.
            Selain itu Safawi juga mengalami kemajuan sektor pertanian terutama di daerah Bulan sabit subur (fortile crescent). Dalam masa ini juga masyarakat sudah banyak malakukan budaya wakaf bagi harta-hartanya kepada ummat[19].

4.    Sosial Kemasyarakatan
            Pada zaman Khudabanda (1666 M), Isfahan 162 Masjid, 48 perguruan, caravansaries, dan tempat pemandian umum yang seluruh nyadibangun oleh  Tahmasp I . Syah Abbas sebagai pelanjut dari keduanya berhasil membuat Syafawi secara keseluruhan menjadi negara yang hidup makmur, terhindar dari perang yang biasanya terjadi. Sehingga di masa Abbas I dinyatakan sebagai puncak keemasan kerajaan  tersebut.

5.    Pendidikan dan Iptek
            Salah satu keunggulan dinasti Syafawi dibandingkan dengan Turki Usmani adalah dibidang Ilmu pengetahuan, Syafawi  lebih menonjol daripada Dinasti Turki Usmani, khususnya ilmu filsafat yang berkembang amat pesat. Dalam bidang pendidikan terutama untuk perkembangan mazhab Syi’ah didirikan sekolah teologi serta pusat kajian Syi’ah di tiga kota, yaitu : Qum, Najaf, Masyhad[20]
            Baha al Din al-‘Amili merupakan tokoh yang dikenal sebagai generalis ilmu pengetahuan pada Zaman Itu. Selain itu seorang ilmuan, Muhammad Bagir ibn Muhammad  Damad juga pernah melakukan penelitian tentang lebah.

6.    Kesenian
            Di bidang kesenian juga sangat terasa pada zaman ini, sebuah sekolah Seni lukis yang merupakan peninggalan dari  Timuriah Yang berada di Herat, dipindahkan ke Tibriz pada tahun 1510 M oleh Ismail I. Di sekolah ini diterbitkan buku  Syah Nameh (buku tentang raja-raja) yang memuat lebih dari 250 lukisan[21]. Tahun 1522 Ismail mendatangkan Seorang pelukis yang bernama Bizhad ke Tibriz[22],  
            Para penguasa kerajaan menjadikan Isfahan menjadi kota yang sangat indah. Kemajuan di bidang ini juga bisa terlihat jelas dalam gaya arsitektur bangunan-bangunannya, seperti terlihat di masjid Shah yang dibangun tahun 1611 M, selain itu juga terlihat pula bentuk kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian dan tenunan, mode, tembikar dan benda seni lainnya.

7.    Pemikiran dan Filsafat
            Dalam bidang filsafat, ditandai dengan berkembangnya filsafat ketuhanan yang kemudian dikenal dengan filsafat Isyraqi (pencerahan) tercatat seorang yang bernama Sadr al Din al-‘Syirazi (Mulla Shadra) sebagai filosof, beliau wafat tahun 1641 M. selain Mulla Shadra juga disebutkan nama Muhammad Bagir ibn Muhammad  Damad juga sebagai filosof, ahli sejarah dan teolog, beliau pernah melakukan penelitian tentang lebah. Ia wafat pada tahun 1631 M.

8.    Pemahaman Agama
            Ismai’l  Khaidar (khalifah pertama) mengklaim dirinya sebagai titisan para Imam Syi’ah, penjelmaan Tuhan, sinar ketuhanan dari imam yang tersembunyi dan imam Mahdi[23].
            Dinasti Syafawi  bukanlah kerajaan yang serta merta dibangun  atas dasar kekuasaan,  berawal dari sebuah pandangan agama dalam bentuk tarekat di Ardabil(Azerbaijan). Tarekat Syafawi yah berdiri hampir bersamaan dengan kerajaan Usmani[24].
            Syafawi  merupakan penganut faham Syi’ah, bahkan dari awal berdirinya kerajaan ini Syi’ah dinyatakan sebagai mazhab resmi negara. Bahkan di zaman Abbas II (Sulaiman) dan Husein terjadi penindasan, pemerasan dan marjinalisasi terhadap ulama Sunni dan memaksa ajaran Syi’ah kepada mereka.
            Namun demikian tidak berarti seluruh Syah Syafawi beraliran demikian, dijelaskan oleh Muhammad Sahil Thaqqusy dalam Sejarah Dinasti Syafawi di Iran dalam hal pandangan agama Ismail II merupakan penganut aliran Sunni,  meskipun tidak diungkapkan secara terang-terangan, namun segala kegiatan dan tindakan kepemimpinannya mengidentifikasikan bahwa beliau adalah penganut faham Sunni[25].  Namun tetap saja dikatakan Syiah telah melingkupi perjalanan dinasti Syafawi  hingga terasa  pada sebagian besar Republik Iran sekarang. 

9.    KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN DINASTI SAFAWI
            Dinasti Syafawi di Persia meraih puncak keemasan di bawah pemerintahan Syah Abbas I selama periode 1588-1628 M. Abbas I berhasil membangun kerajaan safawi sebagai kompetitor seimbang bagi Kerajaan Turki Usmani.
            Tanda-tanda kemunduran kerajaan persia mulai muncul sepeninggalan Abbas I. Secara berturut-turut syah yang menggantikan Abbas I adalah:
1. Safi Mirza (1628-1642 M)
2. Abbas II (1642-1667 M)
3. Sulaiman (1667-1694 M0
4. Husain (1694-1722 M)
5. Tahmasp II (1722-1732 M)
6. Abbas III (1733-1736 M).
            Banyak faktor yang mewarnai kemunduran kerajaan safawi, di antaranya dari perebutan kekuasaan di kalangan keluarga kerajaan. Selain itu dikarenakan bahwa Syah-syah yang menggantikan Abbas I sangat lemah dalam banyak hal terutama kepiawaian dalam memimpin dan pendekatannya terhadap pejabat, aparat dan rakyat .
            Safi Mirza, cucu Abbas I[26] merupakan pemimpin yang lemah dan kelemahan ini dilengkapinya oleh kekejaman yang luar biasa terhadap pembesar-pembesar kerajaan karena sifatnya yang pecemburu. Pada masa pemerintahan Mirza inilah kota Qandahar lepas dari penguasaan Safawi karena direbut oleh kerajaan Mughal yang pada saat itu dipimpin oleh Syah Jehan, dan Baghdad direbut oleh Kerajaan Usmani[27].
                 Abbas II disebutkan sebagai seorang raja yang pemabuk, sehingga kebiasaan mabuk inilah yang menamatkan riwayatnya. akan tetapi di tangannya kota Qandahar bisa direbut kembali. Demikian halnya dengan Sulaiman, ia juga disebut sebagai seorang pemabuk dan selalu bertindak kejam terhadap pembesar istana yang dicurigainya. Disebutkan Selama tujuh tahun ia tak pernah memerintah kerajaan.
                 Diyakini, konflik dengan Turki Usmani adalah sebab pertama yang menjadikan Safawi mengalami kemunduran. Terlebih Turki Usmani merupakan kerajaan yang lebih kuat dan besar daripada Safawi. Hakikatnya ketegangan ini disebabkan oleh konflik Sunni-Syi’ah[28].
                 Syah Husain adalah raja yang alim akan tetapi kealiman Husain adalah suatu kefanatikan tehadap Syi’ah. Karena dia lah ulama Syi’ah berani memaksakan pendiriannya terhadap golongan Sunni. Inilah yang menyebabkan timbulnya kemarahan golongan sunni di Afganistan  sehingga menimbulkan pemberontakan-pemberontakan.
Pemberontakan bangsa Afgan dimulai pada 1709 M di bawah pimpinan Mir Vays yang berhasil merebut wilayah Qandahar. Lalu disusul oleh pemberontakan suku Ardabil di Herat yang berhasil menduduki Mashad.
                 Di lain pihak Mir Vays digantikan oleh Mir Mahmud sebagai penguasa Qandahar. Pada masa Mir Mahmud berhasil menyatukan suku Afgan dengan suku Ardabil. Dengan kekuatan yang semakin besar, Mahmud semakin terdorong untuk memperluas wilayah kekuasaannya dengan merebut wilayah Afgan dari tangan Safawi. Bahkan ia melakukan penyerangan terhadap Persia untuk menguasai wilayah tersebut.
            Penyerangan demi penyerangan ini memaksa Husain untuk mengakui kekuasaan Mahmud. Oleh Husain, Mahmud diangkat menjadi gubernur di Qandahar dengan gelar Husain Quli Khan yang berarti Budak Husain. Dengan pengakuan ini semakin mudah bagi Mahmud untuk menjalankan siasatnya. Pada 1721 M ia berhasil merebut Kirman. Lalu menyerang Isfahan, mengepung ibu kota safawi itu selama enam bulan dan memaksa Husain menyerah tanpa syarat. Pada 12 oktober 1722 M Syah Husain menyerah dan 25 Oktober menjadi hari pertama Mahmud memasuki kota Isfahan dengan kemenangan, sedangkan beberapa wilayah propinsi laut Kaspia di Jilan, Mazandaran dan Asterabad direbut oleh Rusia[29].
            Tak menerima semua ini, Tahmasp II yang merupakan salah seorang putra Husain dengan dukungan penuh suku Qazar dari Rusia, memproklamirkan diri sebagai penguasa Persia dengan ibu kota di Astarabad. Pada 1726 M, Tahmasp bekerja sama dengan Nadir Khan dari suku Afshar untuk memerangi dan mengusir bangsa Afgan yang menduduki Isfahan.
            Asyraf sebagai pengganti Mir Mahmud berhasil dikalahkan pada 1729 M, bahkan Asyraf terbunuh dalam pertempuran tersebut. Dengan kematian Asyraf, maka dinasti Safawi berkuasa lagi.
            Pada Agustus 1732 M, Tahmasp II dipecat oleh Nadir Khan dan digantikan oleh Abbas III yang merupakan putra Tahmasp II, padahal usianya masih sangat muda. Ternyata ini adalah strategi politik Nadir Khan, karena pada tanggal 8 maret 1736, dia menyatakan dirinya sebagai penguasa persia dari abbas III. Maka berakhirlah kekuasaan dinasti Safawi di Persia[30].
            Kehancuran Syafawi juga dikarenakan lemahnya pasukan Ghulam yang diandalkan oleh safawi pasca penggantian tentara Qizilbash. Hal ini karena pasukan Ghulam tidak lagi dilatih secara penuh dalam memahami seni militer. Sementara sisa-sisa pasukan Qizilbash tidak memiliki mental yang kuat dibandingkan dengan para pendahulu mereka. Sehingga membuat pertahanan militer Safawi sangat lemah dan mudah diserang oleh lawan.

C.   PENUTUP
Sebagai penutup penulis akan menyimpulkan beberapa hal ,  yaitu:
1.         Nama Syafawi  dinisbatkan kepada tarekat Syafawi yah yang didirikan oleh Syekh Safiuddin Ishaq (1252-1335M) di masa dinasti Ilkhan
2.      Kepemimpinan tarikat berlangsung secara turun temurun mengikut garis keturunan
3.      Pemimpin kerajaan Syafawi  disebut Syah
4.      Isma’l sebagai Pimpinan tarekat sekaligus sebagai Syah pertama
      Berikut merupakan Syah dinasti Syafawi [31]:
1.        Ismail I (1501-1524 M),
2.        Tahmasp I (1524-1576 M),
3.        Isma’il II(1576-1577 M)
4.        Muhammad Khudabanda (1578-1587 M)
5.        Abbas I (1588-1628 M).
6.        Safi Mirza (1628-1642 M)
7.        Abbas II (1642-1667 M)
8.        Sulaiman (1667-1694 M)
9.        Husain (1694-1722 M)
10.    Tahmasp II (1722-1732 M)
11.    Abbas III (1733-1736 M).

5.    Jika ditinjau dari segi kemajuan dan kemundurannya. Dinasti Syafawi  bisa dibagi menjadi tiga fase[32]:



a.    Fase Pertama (1501-1588 M)
Merupakan masa pendirian/pembentukan dinasti dan juga periode peralihan terhadap banyak perubahan dan penyesuaian struktur administrasi pemerintahan.
b.    Fase Kedua (1588-1628 M)
Merupakan zaman keemasan  dan mengalami kemajuan di berbagai bidang, ini terjadi pada masa Abbas I yang diberi gelar Syah Yang Agung
c.    Fase Ketiga (1628-1722 M)
Merupakan masa kemunduran dan berakhirnya dinasti Syafawi, di Persia.

6.    Perluasan Wilayah
     Sebelah Utara                       : Transxsosani
     Sebelah Selatan                     : Teluk Persia
     Timur sampai Barat               : Sungai Eufrat

7.    Syafawi   yang merupakan rival bagi kerajaan Turki Usmani tetap diakui sebagai sebuah kerajaan yang besar, hal ini dibuktikan dengan adanya kesepakatan damai yang terjadi pada masa Abbas I  dengan Turki Usmani, ini mengindikasikan bahwa Syafawi  memang diakui keberadaannya dari Turki Usmani yang memang dari segi waktu muncul lebih dahulu.


[1] Muhammad Sahil Taqqusy  تاريخ دولة الصفوية (فى إيران) , (Beirut, Daren Nafaes,2009) hal 35
[2] Badri Yatim,Sejarah Peradaban Islam (Jakarta, Raja Grafindo Persada,2006) hal 138
[3] Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam (Bandung, Pustaka Islamika, 2008) hal234
[4] Dicky Avellli A, Makalah Tiga Dinasti (
[5] Badri Yatim Op Cit hal 139
[6] Dicky Avellli A, Lokcit
[7] MS Rizqi, Dinasti-dinasti kecil Persia(http://msrizqi.blogspot.com/2009/04/dinasti-dinasti-kecil-persia.html)
[8] Pada awalnya seperti yang disebutkan Syafawi adalah sekutu AK Koyunlu. Namun akhirnya AK Koyunlu berusaha melenyapkan kekuatan militer dan dinasti Syafawi
[9] Ibid
[10] Ibid
[11] Isma’il mempunyai 9 orang anak, empat diantaranya laki-laki dan lima orang perempuan, Tahmasp merupakan anak pertamanya.
[12] Muhammad Sahil Taqqusy , Lok cit  hal 123
[13] Ibid hal 88
[14] Ibid hal 111
[15] Ibid 115
[16] Dicky Avellli A, Op cit
[17] Dedi Supriadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung, Pustaka Setia, 2008) hal 254-255
[18] Saeful Anwar,Peradaaban Islam Masa Dinasti Syafawi Persia1501-1736 M, (http://file.upi.edu /Direktori/ B-FPIPS/MKDU/198111092005011-)
[19] Dedi Supriadi, Op Cit  hal 256
[20] Saeful Anwar,Op cit
[21] Jaih Mubarok Lok cit236
[22] Badri Yatim, Lok cit hal  145
[23] Saeful Anwar, Lok cit
[24] Dicky Avellli A, Lok cit
[25] Muhammad Sahil Taqqusy,  Lok cit hal 112-113
[26] Eni Rahman,  Sejarah Kerajaan Safawi,( http://bookedu.wordpress.com/2010/08/19/sejarah-kerajaan-safawi/)
[27] kemunduran-tiga-kerajaan-besar-utsmani-safawi-dan-mughal/
http://initialdastroboy.wordpress.com/2010/04/15/kemunduran-tiga-kerajaan-besar-utsmani-safawi-dan-mughal/
[28] Ibid
[29] Jaih Mubarok, Lok cit, hal 237
[30] kemunduran-tiga-kerajaan-besar-utsmani-safawi-dan-mughal/
Op cit
[31] Raja-raja kerajaan Syafawi erat kaitannya dengan kepemimpinan tarekat Syafawiyah itu sendiri, adapun urutan silsilahnya sebelum Ismail adalah: Syafi Al Din (1252-1334), Sadar Al Din Musa (1334-1399), Khawaja Ali (1399-1427), Ibrahim (1427-1447), Juneid (1447-1460) Haidar (1460-1494), Ali (1494-1501)
[32] Saeful Anwar Lok cit

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar