Rabu, 15 Mei 2013

TURKI USMANI I




A.  Pendahuluan
Setelah Khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan Tartar Mongol. Kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabing-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain bahkan saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu. Hal ini disebabkan Baghdad adalah sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan ikut lenyap dibumi hanguskan oleh pasukan Hulagu Khan. Timur Leng menghancurkan pusat-usat kekuasaan Islam yang lain. Dunia Islam dibawah kekuasaan mereka mengalami kehancuran, yang pada gilirannya membuat umat Islam mengalami kemunduran dan umat Islam mengalami penderitaan yang tiada taranya pda saat itu.
Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar. Usmani di Turki, Mughal di India dan Syafawi di Persia. Kerajaan Usmani di samping yang pertama berdiri, juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.[1]
Persinggungan Islam dengan Turki melalui sejarah yang panjang, terhitung sejak abad pertama Hijriyah hingga suku-suku Turki menjadi penganut dan pembela Islam. Pengaruh Turki dlaam dunia Islam semakin terasa pada masa pemerintahan al-Mu’tasim, kholifah terakhir dinasti abbasiah. Sejak masa itu bangsa Turki dari berbagai suku senantiasa terlibat dalam jatuh bangunya berbagai dinasti di daerah mana mereka bertempat tinggal dan mengabdi.[2]


B.   Asal Usul Turki Usmani
Kerajaan Turki Usmani didirikan oleh suku bangsa pengembara yang beral dari wilayah Asia tengah yang termasuk suku Kayi, ketika bangsa Mongol menyerang dunia Islam, pemimpin suku Kayi, Sulaiman Syah, mengajak anggota sukuya untuk menghindari serbuan bangsa Mongol tersebut dan lari ke arah barat. Bangsa Mongol  itu mulai menyerang dan menaklukan wilayah Islam yang berada dibawah kekuasaan dinasti Khawarazm Syah tahun 12419-1220. Sulaiman syah meminta perlindungan kepada Jalal ad-Din memberi jalan agar sulaiman pergi ke Barat ke arah Asia Kecil dan disanalah mereka menetap. Sulaiman ingin pindah lagi ke wilayah Syam setelah ancaman mongol reda. Dalam usahanya indah ke negeri syam itu, pemimpin orang-orang Turki tersebut mendapat kecelakaan hanyut disungai Euprat yang tiba-tiba pasang karena banjir besar, tahun 1228.[3]
Mereka akhirnya terbagi menjadi dua kelompok yang pertama ingin ke negeri asal dan yang kedua meneruskan perantauannya ke wilayah Asia Kecil. Kelompok kedua itu berjumlah sekitar 400 keluarga dipimpin oleh Erthogrol anak Sulaiman Syah. Mereka akhirnya menghambakan diri kepada Sultan ‘Ala ad-Din II dari Turki Saljuk Rum yang pemerintahannya berpusat di Konya, Anatolia, Asia Kecil. Pada waktu itu bangsa Saljuk yang serumpun dan seagama dengan orang-orang Turki Imigran melihat bahaya bangsa Romawi yang mempunyai kekuasaan di kemaharajaan Romawi Timur (Bizantium). Dengan adanya pasukan baru dari saudara sebangsanya itu pasukan Saljuk menang atas Romawi. Sultan gembira dengan kemenangan tersebut dan memberi hadiah kepada Erthogrol wilayah yang berbatasan dengan Bizantium, dengan senang hati Erthogrol membangun pendidikan dan berusaha memperluas wilayahnya dengan merebut dan merongrong wilayah Bizantium. Mereka menjadikan Sogud sebagah pusat kekuasaannya. Dinasti Saljuk Rum sendiri sedang surut pada saat itu.  Dinasti tersebut telah berkuasa di Anatolia bagian tengah kurang lebih dua ratus tahun lamanya. Sejak tahun 1077 hingga tahun 1300.
Erthogrol memunyai seorang putra yang bernama Usman yang diperkirakan lahir tahun 1258. Nama Usman itulah yang diambil sebagai nama untuk kerjaan Turki Usmani. Erthogrol meninggal tahun 1280.[4] Sepeninggal Erthogrol, atas persetujuan Sultan Alaudin, kedudukan Erthogrol digantikan oleh putranya yang bernama Usman yang memerintah Turki Usmani antara tahun 1281-1224  M. Serangan Mongol terhadap Bagdad  termasuk Saljuk yang terjadi pada tahun 1300  yang menyebabkan dinasti ini terpecah-pecah menjadi sejumlah kerajaan kecil. Dalam kondisi kehancuran Saljuk inilah Usman mengklaim kemerdekaan secara penuh atas wilayah yang didudukinya. Sekaligus memproklamisikan berdirinya kerjaan Turki Usmani. Kekuatan militer  Usman menajdi benteng pertahanan Sultan dinasti-dinasti kecil dari ancaman bahaya serangan Mongol. Dengan demikian, secara tidak langsung mereka mengakui Usman sebagai penguasa tertinggi dengan gelar “Padiansyah Ali Usman”[5]

C.  Imperium Usmani yang mendunia
Raja-raja Turki Usmani bergelar Sultan dan Khlifah sekaligus. Sultan menguasai kekuasaan duniawi dan Khalifah berkuasa dibidang agama atau spiritual/ukhrawi. Mereka mendapatkan kekuasaan secara turun temurun. Tetapi tidak harus putra pertama yang menjadi pengganti Sultan terdahulu. Adakalanya putra kedua atau ketiga dan selanjutnya menggantikan Sultan.  Dan perkembangan selanjutnya pergantian kekuasaan itu juga diserahkan kepada saudara Sultan bukan kepada anaknya. Dengan system pergantian kekuasaan yang sedemikian itu sering timbul perebutan kekuasaan, yang tidak jarang menjadi ajang pertempuran antara satu pengeran dengan yang lainnya, yang mengakibatkan lemahnya kekuasaan Usmaniyyah. Sejak masa Usman hingga Sulaiman yang Agung dapat dikatakan bahwa para sultannya terdiri dari orang-orang yang kuat, dapat mengembangkan kerajaannya hingga ke Eropa dan Afrika. Dimasa Sulaiman yang bergelar al-Qanuni itulah Turki Usmani mencapai puncak kejaannya. Setelah masa itu para sultannya dalam keadaan lemah, ditambah lagi dengan banyakknya serangan balik dari negeri-negeri Eropa yang sudah mereasa kuat. Akhirnya para penguasa Usmani tidak dapat lagi mempertahankan kerajaannya yang luas itu san hilanglah kekuasaannya tahun 1924 ketika Mustafa Kemal Attaturk menghapuskan Khilafah untuk selama-lamanya dari bumi Turki dan bergantilah negeri itu menjadi Republik hinga kini. Dalam sekian lama kekuasaannya itu sekitar 625 tahun berkuasa tidak kurang dari tiga puluh delapan sultan, yang sejarah kekuasaan mereka bisa dibagi menjadi lima periode sebagai berikut:[6]
a.       Periode Pertama (1299-1402)
Periode ini dimulai dari berdirinya kerajaan, ekspansi pertama sampai kehancuran sementara oleh serangan Timur. Sultan-sultannya adalah seagai berikut:
1.      Usman I                                                                  1299-1326
2.      Orkhan (putera Usman I)                                        1326-1359
3.      Murad I (putera Orkhan)                                        1359-1389
4.      Bayazid I Yildirim (putera Murad I)                      1389-1402
Sebagaimana telah disebutkan di atas, Usman mendapatkan kekuasaannya setelah meninggalnya Sultan Saljuk Rum, ‘Ala ad-Din II. Kerajaannya diperkuat dengan menambah wilayah-wilayah yang ditaklukkannya dari Bizantium. Untuk negeri-negeri yang belum ditaklukkan di Asia Kecil, Usman mengirim surat kepada mereka untuk memilih dari tiga pilihan, yakni tunduk dan memeluk agama Islam, membayar jizyah, atau diperangi. Banyak diantara mereka yang tunduk dan memeluk agama Islam, sebagian yang lain mau membayar jizyah, tetapi ada pula yang menetang dan bersekutu dengan tentara Tartar untuk melawannya. Sultan Usman bersama dengan anaknya, Orkhan menyerang wilayah barat Bisantium hingga ke Selat Bosporus. Bursa dijadikan ibu kota kerajaan Usman setelah sebelumnya pemerintahan Usmani itu berpusat di Qurah Hisyar atau Iskisyihar.
Sultan Murad naik tahta tahun 1359. Di samping meluaskan wilayah ke Eropa, Sultan yang baru itu juga menaklukkan wilayah di Asia Kecil sampai di Ankara. Negeri-negeri bekas wilayah Saljuq ditundukkan. Adrianopel di daratan Eropa ditaklukkan pula. Kota itu dijadikan ibu kota Usmani dan diganti dengan Edirne karena letaknya yang strategis. Melihat kesuksesan yang dilakukan oleh Usmani itu, maka raja-raja Kristen Eropa memohon kepada Paus di Roma untuk mengumpulkan pasukan guna menahan laju pasukan Usmani. Tetapi pasukan sekutu dari Eropa itu dapat dikalahkan oleh Murad dengan serangan di malam gelap yang tidak terduga sebelumnya.
Serangan yang menetukan terjadi di Kossovo tahun 1389. Pasukan Slavia dan Servia (Serbia) dapat dipukul mundur dan dihancurkan oleh pasukan Murad. Ia melihat-lihat pasukannya yang baru menang di antara serakan pasukan lawan yang terbunuh. Tiba-tiba seorang tentara yang berpura-pura mati bangkit dan menikam Sultan sehingga menyebabkan kematiannya  seketika itu juga. Si Penikam itu akhirnya meti juga terbunuh di tangan pasukan Muslim. Hal itu tejadi pada 1389, dan ia digantikan oleh putranya, Bayazid.
Sultan Bayazid naik tahta tahun 1389, dan mendapat gelar Yaldirin atau Yaldrum, yang berarti kilat, karena terkenal dengan serangan-serangannya yang cepat terhadap lawan-lawannya. Ia menaklukkan wilayah-wilayah yang belum ditundukkan oleh para pendahulunya. Di masanya terjadi perang besar antara pasukan Usmani dengan tentara sekutu Eropa yang dimenangkan oleh pasukan Usmani. Pertempuran itu terjadi pada tahun 1396.
Ketika sedang memusatkan perhatiannya untuk menghadapi musuh di Eropa, ia ditantang oleh musuh sesame Islam yang datang dari Timur, yakni Timur Lank, seorang raja keturunan bangsa Mongol yang telah memeluk agama Islam yang berpusat di Samarkand. Ia mendapatkan dukungan dari negeri-negeri Asia Kecil yang tidak mau tunduk kepada Bayazid. Perang yang menentukan terjadi di Ankara. Bayazid bersama anaknya, Musa, dan Erthogrol dikalahkan dan ditawan olah Timur Lank. Akhirnya, Bayazid mati dalam tawanan Timur tahun 1402.
b.      Periode Kedua
Periode ini ditandai dengan proses restorasi kerajaan dan cepatnya pertumbuhan sampai ekspansinya terbesar. Sultan-sultannya adalah:
5.      Muhammad I (putera Bayazid I)
6.      Murad II (putera Muhammad I)
7.      Muahmmad II al-Fatih (putera Murad II)
8.      Bayazid II ( putera Muhammad II)
9.      Salim I (putera Buayazid II)
10.  Sulaiman I al-Qanuni (putera Salim I)
Sultan Muhammad naik tahta dengan susah payah setelah mengalahkan saudara-saudaranya sepeninggal ayahnya, Bayazid. Ia baru diakui oleh seluruh wilayah Usmani setelah berjuang kurang lebih sepuluh tahun. Ia membuat perjanjian damai dengan raja-raja Eropa dan menaklukkan wilayah-wilayah yang menentangnya satu demi satu . akhirnya wilayah Usmani dapat disatukan kemabali. Integrasi wilayah ini tanpaknya mengejutkan Eropa karena mereka sama sekali tidak menduga bahwa Usmani akan bangkit kembali karena sudah berantakan akibat serangan Timur Lank. Sultan meninggal tahun 1421 dan diganti oleh putranya, Murad II.
Sultan Murad naik tahta ketika masih berumur muda sehingga tidak dihiraukan oleh raja-raja Eropa. Banyak tantangan yang ia hadapi. Yang paling penting adalah bersatunya pasukan Eropa di bawah komando negeri Hongaria dengan Huynade sebagai pemimpinnya. Serangan-serangan terhadap dunia Islam membuahkan kemenangan, yang memaksa Murad II untuk berdamai dengan mereka. Perdamaian dengan sumpah di bawah kitab suci masing-masing agama –al-Qur’an dan Injil- dikhianati oleh pihak Kristen. Mereka bernafsu menyerang kembali Usmani tanpa manghiraukan perjanjian yang telah dibuat belum lama berselang. Sultan Murad yang semula mengundurkan diri dari panggung politik bangkit kembali guna menghadapi pengkhianatan itu. Akhirnya dengan semangat yang tinggi dan serangan yang dahsyat pasukan Huynade dapat dilumpuhkan dan ia lari ke Eropa. Sultan Murad II meninggal setelah itu, pada tahun 1451, dan diganti oleh putranya, Muhammad II.
Ia naik tahta pada tahun 1451 dengan mewarisi kerajaan yang luas. Ia terkenal dengan nama al-fatih, sang penakluk dan pembuka, karena pada masanya Konstantinopel sebagai ibu kota Bizantium berabad-abad lamanya dapat ditundukkan. Hal ini terjadi pada tahun 1453. Pasukan Usmani memblokade kota berbenteng kuat itu dari segala penjuru, yang akhirnya kota itu dapat ditaklukkan. Gereja Aya Sophia yang terkenal itu diubah menjadi masjid, dan kebebasan beragama dijamin. Iabu kota Usmani dipindahkan ke kota itu dari Edirne. Sultan Muhammad II meninggal tahun 1481 dan diganti oleh putranya, Bayazid II.
Berbeda dengan ayahnya, Bayazid II lebih mementingkan kehidupan tasawuf dari pada perang di mendan laga. Kelemahannya dibidang pemerintahan yang cenderung berdamai dengan musuh mengakibatkan Sultan tidak begitu ditaati oleh rakyatnya, termasuk putera-puteranya. Bahkan terjadi perselisihan yang panjang antara ayah dan putera-puteranya mengenai banyak hal, dan yang paling penting adalah masalah putra mahkota. Akhirnya, Sultan Bayazid II mengundurkan diri dari panggung pemerintahan Usmani tahun 1512, dan diganti oleh putranya Salim I.
Sultan Salim I memiliki kemampuan memerintah dan memimpuin peperangan. Maka pada masa pemerintahannya wilayah Usmani bertambah luas hingga menembus Afrika Utara. Syria dapat di tahklukkan, dan Mesir yang diperintah oleh kaum mamalik ditundukkan pada tahun 1517. Gelar Khilafah yang disandang oleh al-Mutawakkil ‘Ala Allah, salah seorang keturunan Bani Abbas yang selamat dari serangan bangsa Mongol 1235 dan yang pada saat ini berada di bawah proteksi Mamluk, diambil alih oleh Sultan. Dengan demikian, sejak masa Sultan Salim ini para sultan Usmani juga menyandang gelar Khalifah. Sultan meninggal tahun 1520 dan diganti oleh anaknya, Sulaiman I
 Pada masa sultan sulaiman I ini terjadilah zaman keemasan bagi kerajaan Turki Usmani. Wilayahnya mencapai kawasan yang luas, meliputi daratan Eropa hingga Austria; Mesir dan Afrika Utara hingga ke Al-Jazair dan Asia hingga ke Persia, serta melingkupi lautan Hindia, Laut Arabia, Laut Merah, Laut Tengah, dan Laut Hitam. Ia membuat dan memberlakukan undang-undang di negerinya yang menyebabkannya digelari dengan al-Qanuni, pembuat undang-undang. Orang Barat menyebutnya dengan Sulaiman Yang Agung, The Magnificent. Ia wafat pada tahun 1566, dan digantikan oleh puteranya, Salim II. Dimasa anaknya inilah mulai tampak kemunduran kerajaan Usmani sedikit demi sedikit.
c.       Periode Ketiga
Periode ini ditandai dengan kemampuan Usmani untuk mempertahankan wilayahnya, sampai lepasnya Hungaria. Namun, kemunduran segera terjadi.
Dalam masa kemunduran Turki Usmani setelah sulaiman, terdapat beberapa sultan yang berkuasa berturut-turut sebagai berikut:
11.  Salim II (putera Sulaiman I)  1566-1573
12.  Murad III (putera SalimII) 1573- 1596
13.  Muhammad III (putera Murad III)  1596-1603
14.  Ahmad I (putera Muhammad III) 1603-1617
15.  Mustafa I (putera Muhammad III) 1617-1618
16.  Usman II (putera Ahmad I) 1618-1622
17.  Mustafa I ( yang kedua kalinya) 1622-1623
18.  Murad IV (putera Ahmad I)  1623-1640
19.  Ibrahim I (putera Ahmad I) 1640-1648
20.  Muhammad IV (putera Ibrahim I) 1648-1687)
21.  Sulaiman III (putera Ibrahim I) 1687-1691
22.  Ahmad II (putera Ibrahim I) 1691-1695
23.  Mustafa II (putera Muhammad IV) 1695-1703
d.      Periode Keempat (1699-1839)
Periode ini ditandai dengan secara beransur-ansur surutnya kekuatan kerajaan dan pecahnya wilayah di tangan para penguasa wilayah. Sultan-sultannya adalah sebagai berikut:
24.  Ahmad III (putera Muhammad IV)  1703-1730
25.  Mahmud I (putera Mustafa II)  1730-1754
26.  Usman III (putera Mustafa II) 1754-1757
27.  Mustafa III (putera Ahmad III) 1757-1774
28.  Abdul Hamid I (putera Ahmad III)  1774-1788
29.  Salim III ( putera Mustafa III) 1789-1807
30.  Mustafa IV (putera Abd al-Hamid I) 1807-1808
31.  Mahmud II (putera Abd al-Hamid I) 1808-1839
e.       Periode Kelima (1839-1922)
Periode ini ditandai dengan kebangkitan cultural dan administratif dari negara di bawah pengaruh ide-ide Barat. Sultan-sultannya adalah sebagai berikut :
32.  Abdul Majid I (putera Mahmud II) 1839-1861
33.  Abdul Aziz (putera Mahmud II) 1861-1876)
34.  Murad V (putera Abd al-Majid I) 1876-1876)
35.  Abdul Hamid II (putera Abd al-Majid I) 1876-1909
36.  Muhammad V (putera Abd al-Majid I) 1909-1918
37.  Muhammad VI (putera Abd al-Majid I) 1918-1922
38.  Abdul Majid II (1922-1924), hanya bergelar Khalifah, tanpa Sultan, yang akhirnya di turunkan pula dari jabatan khalifah. Turki Usmani dihapus oleh Kemal Attaturk, dan Turki menjadi negara nasional Republik Turki.

Ketika Murad I, pengganti Orkhan, berkuasa (761/1359 M-789 H/1389M), selain memantapkan keamaan dalam negeri. Ia melakukan perluasan daerah ke benua Eropa. Ia dapat menaklukkan Adrianovel yang kemudian dijadikan sebagai ibukota kerajaan yang baru. Macedonia, Sopia. Salonia dan seluruh wilayah utara Yuman. Merasa cemas terhadap kemajuan ekspansi kerajaan ini ke Eropa, Paus mengobarkan semangat perang. Sejumlah besar pasukan sekutu Eropa disiapkan untuk memukul mundur pasukan Turki Usmani. Pasukan ini dipimpin oleh Sigisman, Raja Hongaria Timur. Sultan Bayazid I (1369-1403M ), pengganti Murad I, dapat menghancurkan pasukan sekutu Kristen tersebut, Perisawa ini merupakan catatan sejarah yang amat gemilang bagi umat Islam.
Ekpansi kerajaan Usmani sempat terhenti beberapa lama. Ketika ekspansi diarahkan ke Konstantinopel, tentara Mongol yang dipimpin Timur Lenk melakukan serangan ke Asia Kecil. Pertempuran hebat terjadi di Ankara tahun 1402 M. Tentara Usmani mengalami kekalahan, Bayazid bersama putranya Musa tertawan dan wafat dalam tawanan tahun 1403 M.
Setelah Timur Lenk meninggal dunia tahun 1405 M, Kekaisaran Mongol dipecah dan dibagi-bagi kepada putera-puteranya yang satu sama lain berselisih. Kondisi ini dimanfaatkan oleh penguasa Turki Usmani untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mongol. Namur, pada saat seperti itu juga terjadi perselisihan putera-putera Hayazid. Setelah sepuluh tahun perebutan kekuasaan terjadi, akhimya Muhammad berhasil mengalahkan saudara- saudaranya. Usaha Muhammad yang pertama kali adalah mengadakan perbaikan-perbaikan dan meletakkan dasar-dasar keamanan dalam negeri. Usahanya itu diteruskan oleh Murad II, sehingga Turki Usmani mencapai puncak kemajuannya pada masa Muhammad II atau biasa disebut Muhammad al-fatih (1451-1484 M).
Sultan Muhammad al-Fatih dapat mengalahkan Byzantium dan menaklukan Konstantinopel tahun 1553 M.  Dengan terbukanya Konstantinopel sebagai benteng pertahanan terkuat kerajaan Bizantium, lebih memudahkan arus ekspansi Turki Usmani ke benua Eropa.  Akan tetapi ketika Sultan Salim I naik tahta, ia mengalihkan perhatian ke arah timur dengan Menaklukan Persia, Syiria dan Dinasti Mamalik di Mesir. Usaha Sultan Salim I ini dikembangkan oleh Sultan Sulaiman al-Qanuni pada tahun 1520 - 1566 M. Ia tidak mengarahkan ekspansinya kesalah satu arah Timur atau Barat tetapi seluruh wilayah yang berada di Turki Usmani merupakan objek yang menggoda hatinya Sulaiman berhasil menundukkan, Belgrado. Pulau Rodhes, Tunisia, Budapest, dan Yaman, Dengan demikian, luas wilayah Turki Usmani pada masa Sulaiman al- Qanuni mencakup Asia kecil, Armenia. Iraq, Syiria hijaz, dan Yaman di Asia, Mesir, Libiya, Tunisia dan al Jazair di Afrika, Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania. Hongaria. dan Rumania di Eropa[7]

39.              Keadikuasaan Negara Turki Usmani
a.       Dalam Bidang Politik dan Pernerintahan
Setelah Khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembang kerajaan Turki Usmani. Keadaan ini dapat dilihat dari kurun waktu terpanjang dalam sejarah Islam bahkan ia satu dari negara Islam yang terbesar dan negara Islam yang paling tahan dari segala tantangan zaman. Tidak kurang dari 38 Sultan yang memerintah semenjak Sultan Usmani. Sudah merupakan hukum alam bahwa sebuah negara yang tumbuh dan berkembang, serta dapat bertahan dari hambatan dan tantangan akhirnya akan mencapai kesuksesan yang gemilang. Kesuksesan ini tentu saja tidak dapat berdiri sendiri, artinya kesuksesan yang diperoleh suatu  negara itu tidak terlepas dari seorang penguasa dan sistem pemerintahan yang dijalaninya.
Pada awal Usman I memproklamirkan kemerdekan wilayahnya dengan nama Kesultanan Usmani yang diambil dari namanya sendiri Usman.  Atas pernyataannya itu maka para pembesar saljuk besera seluruh kaum muslimin membai’atnya dan menyatakan tunduk dan patuh serta memohon perlindungan kepadanya dari kekejaman Mongol. Selanjutnya sajarahpun mengabadikam dan mencatat bahwa sejak, Turki Utsmani tampil digelanggang politik internasional tidak ada lagi pasukan tentara Islam yang mengangkat senjata melawan umat Islam.[8]
Pada mulanya raja-raja Turki usmani bergelar Sultan. Sejak Sultan Salim I dapat menaklukkan Kerajaan Mamaluk di Mesir pada tahun 1517 M dan berhasil membawa atribut khalifah ke Turki, maka sejak itu Sultan Salim memakai gelar Sultan dan Khlaifah sekaligus begutu juga dengan raja-raja setelahnya. Mereka mendapatkan kekuasaan secara turun-temurun. Akan tetapi tidak harus putra pertama yang menggantikan sultan terdahulu. Dalam perkembangan selanjutnya pergantian kekuasaan itu juga diserahkan kepada saudara sultan bukan kepada anaknya.[9]
Dalam menjalankan pemerintahan dibidang tamporal (duniawi) sultan dibantu oleh Shad al-‘Adham, sedangkan dibidang spritual (keagamaan) Sultan dibantu oleh Syaikh al-Islam.[10]
b.      Bidang Militer
Kerajaan Turki Usmani berdiri berkat ketangguhan militernya. Pada masa sultan Orkhan, ia membubarkan organisasi ketentaraan yang lama dan membentuk pasukan  Janissari, Inkisyariyyah (pasukan baru) yang telahhdibina di bidang kemiliteran sejak kecil dan mereka diarahkan serta dibimbing agar masuk Islam. Mereka diasramakan dalam lingkungan dan suasana Islam. Pasukan inilah yang kemudian menjadi mesin perang yang sangat handal dan tangguh dalam perluasan wilayah Turki Usmani. Di samping tentara yang bersifat tetap, Turki usmani juga memiliki tentara feudal yang dikirim kepada tentara pusat. [11] 
Selain angkatan darat yang tengguh, kerajaan ini juga melakukan pembenahan terhadp angkatan laut, sehingga pada masa sultan Muhammad II dapat menyerbu dan menaklukkan Konstantinopel. Dengan kemenangan ini Kerajaan Turki Usmani dapat menjadi negara adikuasa Islam, yang akhirnya dapat mencapai puncak kejayaanya pada masa Sultan Suaiman I di awal abad ke 16 M.
Sultan Sulaiman I dalam melakukan Ekspansi tidak menuju kea rah satu saja, tetapi juga mengarahkan tentaranya ke benua Eropa, Asia dan Afrika. Kekuatan perang Turki Usmani menjadi lebih kuat lagi pada waktu mereka menguasai teknologi persenjataan modern serti senjata api, meriam dan sejenisnya.[12]
c.         Bidang Keagamaan
Agama dalam  tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan besar dalam lapangan sosial dan politik. Masyarakat digolong-golongkan berdasarkan agama dan kerajaan sendiri sangat terikat dengan Syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Karena itu ulama mempunyai tempat tersendiri dan berperan besar dalam negara dan masyarakat. Mufti, sebagai pejabat urusan agama tertinggi, berwenang memberi fatwa resmi terhadap problema keagamaan yang dihadapi masyarakat, tanpa legimitasi Mufti, keputusan hukum negara bisa tidak berjalan[13]
Pada masa Turki Utsmani tarekat juga mengalami kemajuan. Tarekat yang paling berkembang ialah Tarekat Bektasyi dan tarekat Maulawi. Kedua Tarekat ini banyak yang dianut oleh kalangan sipil dan meliter.
d.      Biding Ekonomi
Perekonomian  penduduk  yang mapan merupakan syarat utama bagi kelansungan hidupKerajaan Turki Usmani. Akan tetapi kemajuan perekonomian tidak bisa dipisahkan dari kemajuan di bidang politik dan militer. Ekspansi yang dilakukan Turki Usmani mendatangkan pemasukan negara berupa ekonomi, dan sebaliknya ekonomi yang kuat mendukung majunya gerakan ekspansi dan pembinaan kekuatan militer.
Kerajaan Turki Usmani merupakan negara yang sangat luas sekali, dengan luasnya wilayah ini telah membantu pemasukan perekonomian Kerajaan Turki Usmani baik itu harta rampasan perang, pembayaran pajak tanah, dan juga dari hasil garapan tanah.
Disamping pemasukan keuangan diatas, perekonomian Turki Usmani menjadi lebih mantap lagi dengan dikuasinya pusat-pusat atau jalur-jalur perdagangan Internasional, diantaranya; Iran, Arab, Mesir, Samudera Hindia, Bursa, Anatolia, dan yanglebih penting lagi adalah dijadikannya Istanbul menjadi ibukotanya.[14] Turki Usmani juga menguasai jalur-jalur perdagangan  internasional, seperti pelabuhan sepanjang laut Tengah, Afrika Utara, pelabiah laut Hitam yang lansung berhungan dengan daratan Asia dan Eropa.[15]

40.              Kemunduran dan Kejatuhan Kerajaan Turki Usmani
1.      Proses Kemunduran
Sebagaimana kerajaan-kerajaan yang pernah tumbuh dan berkembang di dunia Islam, tidak terlepas dari proses pertumbuhan, perkembangan, mencapai puncak kejayaan, lalu akhirnya mangalami kemunduran dan kemudian disusul dengan kehancuran. Demikian juga dengan kerajaan Turki Usmani yang diproklamirkan oleh Usman I, menjadi negara adikuasa pada masa Sultan Muhammad II (al-Fatih), dan mencapai puncak kejayaannya dimasa Sultan Sualiman al-Qanuni. Kemudian Kerajaan Turki Usmani mengalami kemunduran dan pada akhirnya membawa kehancuran.
Kejatuahan Kerajaan Turki merupakan proses sejarah panjang dan tidak terjadi secara tiba-tiba. Dalam sejarahnya selama lima abad (akhir abad ke tiga belas hingga awal abad kesembilan belas) Kerajaan Turki Usmani mengalami pasang surut. Disatu sisi sebuah system politik yang diwarisi dari pendahulunya, Turki Saljuk, yaitu menjadikan Kerajaan adalah milik keluarga kerajaan dan menjadikan sultan sebagai sentral kekuatan politik, membuat kerajaan ini begitu rentan terhadap factor-faktor kejatuhan sebuah dinasti. Seorang Sultan yang lemah saja sudah dapat membuka jalan bagi proses kejatuhan kerajaan. Meskipun demikian seorang Sultan yang kuat, pada masa pemerintahannya juga mampu memperlambat kehancuran suatu dinasti.
Sejarawan  sepakat mengatakan awal kemunduran bermula sejak wafatnya Sultan Salim II (1566).[16] Sesudah Sultan Sulaiman Yang Agung Kerajaan Turki Usmani tidak lagi mempunyai sultan-sultan yang dapat diunggulkan. Sejak pemerintahannya, kekuasaan Turki Usmani sudah mulai diungguli oleh kekuatan Eropa secara perlahan-lahan. Kerajaan Turki Usmani mulai mengalami fase kemunduran pada abad XVII.[17]
Pada akhir abad XVII Kerajaan Turki Usmani secara “bertubi-tubi “ menderita kekalahan dari pasukan Jerman, Polandia dan Rusia. Akibat dari kekalahan-kelahan yang dialami ini memaksa Kerajaan Turki Usmani untuk mengadakan perjanjian atau damai dengan negara-negara  Eropa. Perjanjian ini terjadi pada tahun 1699 yang dinamakan dengan perdamaian Karlowith. Peristiwa ini sungguh sangat menyakitkan hati orang-orang Turki Usmani karena dalam isi perdamaian itu, Turki Usmani harus rela melepaskan Translavia (wilayah Austria), Saladonia dan Karawatai serta Ukraina. Azov sendiri dapat diduduki oleh Kaisar Rusia di bawah pimpinan Peter Yang Agung pada tahun 1696 M.[18]
Kerajaan Turki  Usmani kembali harus kehilangan beberapa wilayahnya dan merelakan campur tangan kekuatan luar ke dalam wilayah yurisdiksinya. Berbagai kekalahan yang menimpa kerajaan Turki Usmani dalam operasi militer sebagai upaya merebut kembali wilayah yang hilang akibat perjanjian karlowith, memaksa Nevseherli Damat Ibrahim Pasya, penasehat Sultan Ahmad III, untuk mengakhiri peperangan pada tanggal 26 Agustus 1717. Perjanjian Passarowitz ditandatangani pada tanggal 21 Juli 1718.  Pada perjanjian itu Turki harus melepaskan Belgrade dan Senendria, wilayah utara Timok dan Una kepada imperium Habsburg, Sava dan Drina ke tangan Austria, dan Habsburg diperbolehkan membela kepentingan katolik di wilayah yurisdiksi Sultan.[19]
Perang antara kerajaan Turki Usmani dengan Rusia berakhir pada tahun 1777 M. dengan ditandai perjanjian Kinarca.  Perjanjian ini oleh Muhammad Farid digambarkan sebagai berikut : “yang penting dari perjanjian kinarca adalah Kerajaan Turki Usmani harus menyerahkan benteng-bentengnya yang berada di laut Hitam  diantaranya adalah benterng Azov”.[20]
Dengan demikian, berhasillah Rusia memenuhi hasratnya untuk menjadikan perairan laut hitam sebagai pangkalan militernya. Kemudian dari isi perjanjian tersebut juga dinyatakan bahwa armada laut Rusia mendapat izin dari pemerintah Turki Usmani untuk melintasi selat yang menghubungkan Laut Hitam dengan Laut Putih (Laut Tengah). Kemudian Kirman memerdekakan diri dari Turki Usmani, Rusia diizinkan membangun gereja di Asitnah dan menjadi pelindung orang-orang Kristen Orthodox yang berdomisili di wilayah Turki Usmani. Para Jemaat Kristen yang akan menunaikan ibadah Haji ke Palestina harus dibebaskan dari membayar pajak. Di samping itu, Turki Usmani harus memperhatikan kesejahteraan para pendeta dan umat Kristen. Pemerintah Turki Usmani harus membayar ganti rugi peperangan kepada Rusia yang tidak sedikit jumlahnya secara beransur-ansur selama tiga tahun.[21] 
Meskipun telah ada perjanjian  damai, ternyata Rusia tetap menaklukkan dan merebut negeri-negeri yang semula dikuasai dan ditinggalkan oleh oleh oran-orang Turki, Tartar dan muslim lainnya. Inilah yang menyebabkan timbulnya kembali peperangan antara Rusia dengan Turki Usmani pada tahun 1792 M. akan tetapi Turki Usmani tetap mengalami kekalahan, dengan ini terpaksalah ia mengakui pendudukan Rusia atas Kerajaan Tartar.[22]
Dalam upaya menjaga kelansungannya, Turki Usmani semakin bertambah ketergantungannya terhadap keseimbangan kekuatan bangsa-bangsa Eropa. Hingga tahun 1878 Ingris dan Rusia saling berebut pengaruh, meskipun keduanya menghindari keterlibatan lansung dalam kerajaan Turki Usmani dan perseteruannya. Meskipun demikian , antara tahun 1878 hingga 1914 sebagian besar wilayah di semenanjung Balkan menjadi wilayah merdeka dari kekuasaan Turki, dan Inggris, Rusia dan Austria-Hungaria mengusai beberapa bekas wilayah kekuasaan Turki tersebut.
Kondisi ini semakin sulit dan rumit, dimana setelah kerajaan Turki Usmani bergabung dengan Jerman dalam Perang Dunia I pada tahun 1914. Keterlibatan Turki Usmani dalam Perang Dunia I dan bergabung dengan Jerman, bukan tanpa alasan. Alasan itu antara lain pengaruh Jerman di Kerajaan Turki Usmani melebihi pengaruh Eropa lainnya. Disamping itu Turki Usmani berharab dengan bergabung bersama Jerman, Turki Usmani dapat mengambil kembali wilayah-wilayahnya yang dicaplok oleh Rusia. Akan tetapi ini hanya berakibat fatal untuk Turki Usmani. Wilayah Turki Usmani semakin lama semakin kecil karena diperebutkan  oleh orang-orang Eropa.[23] 
Dalam Perang Dunia I Turki Usmani mengalami kekalahan, maka diadakan perjanjian Serves yang membuat Turki Usmani harus kehilangan wilayahnya. Dengan demikian, maka melalui perjanjian Serves ini, pada garis besarnya tercapailah segala ambisi negara-negara Eropa yang selama ini tersimpan dalam dada, terutama sekali Yunani karena dari hasil ini, ia berhasil memperoleh sebagian besar wilayah yang dikuasai oleh Turki.[24] Demikianlah proses kemunduran yang terjadi pada kerajaan Turki Usmani.
2.      Faktor-Faktor Kejatuah Turki Usmani
a.       Faktor Internal
1). Kelemahan Para Sultan dan Sistem Birokrasi
Pada masa KerajaanTurki Usmani, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman I (1520-1566), tanda-tanda keruntuhan juga sudah mulai tampak ke permukaan. Pandangan tersebut lebih disebabkan oleh ketergantungan dinasti ini kepada kesinambungan kekuatan politik seorang sultan. Para sultan terdahulu telah begitu terlatih untuk menjadi seorang penguasa dan meniti puncak kekuasaan dengan terlebih dahulu menunjukkan kemampuannya  dalam mengendalikan persoalan pemerintahan dengan pengalaman yang mereka peroleh pada saat terlibat aktif dalam administrasi local dan ekspedisi militer. Mereka memperoleh kekuasaan dengan meyakinkan para pengikutnya dengan memasukkan kelas budak ke dalam struktur pemerintahan dan memberi mereka posisi yang berhadapan dengan para aristocrat Turki. Dengan memberikan ini sebagai kelas penguasa (rulling class) maka ada anggapan bahwa kejatuah Turki Usmani adalah akibat masuknya kelas budak ini ke dalam system birokrasi kerajaan.[25]
Setelah Sultan Sulaiman I, Kerajaan Turki Usmani diperintah oleh sultan-sultan yang lemah, baik dalam kepribadian, jiwa atau watak kepemimpinan serta tidak sesuai dengan tuntutan pada masa itu. Mereka juga kurang terlibat lansung dalam administrasi negara, dan juga dalam peperangan melawan musuh, mereka banyak larut dalam kehidupan istana.[26]
Akibat lemahnya para sultan maka menimbulkan pemberontakan-pemberontakan dalam negeri sediri, seperti di Suriah di bawah pimpinan Kurdi Jambulat, di Lebanon di bawah pimpinan Drize Amir Fakhruddin. Tentara Turki Usmani (Jenissari) juga memberontak, ini berakibat jelek sekali bagi kerajaan Turki Usmani.[27]
2). Kemunduran dalam bidang ekonomi
Kemampuan Turki Usmani untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mulai melemah Setelah kerajaan Turki Usmani berada dalam keadaan mundur dan  lemah. Pajak-pajak dari negara bawahan sudah sangat jauh berkurang. Hal ini karena banyak wilayah tersebut yang melepaskan diri dari kekuasaan pusat.
Pada saat yang sama bangsa Eropa telah mengembangkan struktur kekuatan ekonomi dan keuangan bagi kepentingan mereka sendiri. Serta ditemukannya benua Amerika, telah menggeser jalur perdagangan ke Samudera Atlantik dan ke laut terbuka  di sekeliling Afrika Selatan dan Asia Selata. Laut Tengah dan Timur Tengah, sekalipun dalam beberapa hal masih berpengaruh namun sudah kehilangan kedudukan ekonomi. Kerajaan Turki Usmani sebagai kekuatan Laut Tengah dan Timur Tengah, akhirnya mulai menurun dari kedudukan yang tinggi.[28]
3). Wilayah yang Luas dan Ledakan Penduduk
Wilayah Kerajaan Turki Usmani ketika berada pada puncak kejayaannya meliputi Asia Kecil, Armenia, Irak, Suria, Hijaz, serta Yaman di Asia, Mesir, Libia, Tunisia, serta AlJazair di Afrika dan Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hongaria, dan Rumania di Eropa.[29] Wilayah yang sangat luas itu dihuni oleh penduduk yang beraneka ragam baik dari segi agama, ras maupun adat istiadat. Untuk mengatur wilayah yang besar ini, pada posisi yang lemah sangatlah sulit sekali.
Penduduk Kerajaan Turki Usmani pada abad ke eman belas bertambah dua kali lipat dari sebelumnya. Problem kependudukan pada saat itu lebih banyak disebabkan oleh tingkat pertambahan penduduk yang sedemikian tinggi dan ditam bah menurunnya angka kematian akibat masa damai dan aman. Untuk mengatur penduduk  yang beraneka ragam dan tersebar luas di tiga benua diperlukan suatu organisasi pemerintahan yang baik dan teratur. Tanpa didukung oleh administrasi yang baik Kerajaan Turki Usmani hanya akan menanggung beban  yang sangat berat akibatnya.  Perbedaan ras, bangsa dan agama juga memicu mengantarkan pemberontakan dan peperangan yang akhirnya menjadi kemunduran bagi Kerajaan Turki Usmani.[30]
4). Budaya Korupsi Para Sultan
Korupsi, menipulasi dan kolusi merupakan suatu pekerjaan yang lumrah dan sering mereka lakukan. Oleh karena itu terjadilah jual beli jabatan di lingkungan pemerintahan Turki Usmani. Untuk dapat  menduduki Kursi Shadru al-A’zam seorang calon, harus memberikan sekian banyak hadiah sebagai sogokan kepada sultan dan para keluarganya.[31]
Demikian juga Gubernur sebagai kepala pemerintahan di propinsi. Seorang calon gubernur tidak akan dipilih dan diangkat sebelun ia memberikan sogokan yang banyak kepada Shadrul al-A’zam.  Oleh kerena pengangkatan seorang calon pejabat bukan berdasarkan keahlian dan keterampilannya, maka tidak mengherankan seorang gubernur hanya berfikir bagaimana ia dapat mengembalikan dan memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya dan masalah rakyat bukan menjadi persoalan yang mereka utamakan.[32]
5)  Pengaruh Para Isteri-isteri Sultan
Setelah pemerintahan Sultan Muhammad II, istana Kerajaan Turki Usmani selalu terjadi kecemburuan, intrik dan percekcokan karena pengaruh isteri-isteri sultan berkebangsaan Eropa. Melalui mereka raja-raja Eropa dapat mengirim mata-mata masuk ke istana kerajaan. Dengan demikian tidak jarang isteri-isteri sultan tersebut yang memberikan informasi penting kepada musuh. Oleh karena itu banyak rencana yang dilakukan oleh kerajaan selalu mengalami kegagalan karena sudah diketahui oleh musuh terlebih dahulu. Tentu saja mereka sudah mempersiapkan taktik dan strategi untuk mengantisipasi rencana yang dilakukan oleh Kerajaan Turki Usmani.[33]
6). Keterbelakangan dalam Industri Perang
Pada masa Turki Usmani kemerosotan kaum muslimin tidak hanya terbatas pada bidang pengetahuan saja, melainkan dalam segala bidang termasuk dalam bidang industry perang, padalah keunggulan Turki Usmani pada bidang itu pada masa sebelumnya telah diakui oleh seluruh dunia. Tidak berkembangnya industry sangat berpegaruh terhadap kerajaan Turki Usmani yang sangat mengandalkan militer sebagai tulang punggu kerajaan.
Sementara bangsa Eropa berhasil menciptakan senjata baru, melancarkan modernisasi angkatan perangnya serta memantapkan organisasinya, sehingga pasukannya mampu melancarkan pukulan terhadap kerajaan Turki Usmani pada tahun 1774 M.[34]
7). Munculnya Gerakan Nasionalisme
Dari sekian banyak factor yang menyebabkan kemunduran bagi Kerajaan Turki Usmani adalah tumbuhnya paham nasionalis bangsa-bangsa yang berada di bawah kuasa Turki Usmani. Berbagai suku bangsa yang hidup dibawah pemerintahan Turki Usmani mulai terusik nasionalismenya.  Bangsa Armenia dan Yunani yang beragama Kristen berpaling ke Barat, mohon bantuan bagi kemerdekaan bangsa dan tanah airnya. Bangsa Kurdi dipengunungan dan bangsa Arab di padang pasir dan di lembah-lembah, mereka juga sama bangkit hendak melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan Turki Usmani.[35]
Paham nasionalis yang muncul di wilayah-wilayah Kerajan Turki Usmani tidak terlepas dari persentuhan umat Islam dengan orang-orang Barat.[36] Dengan adanya paham nasionalis ini menimbulkan kesadaran rakyat akibat dari tekanan pemerintah, bahkan mereka sebenarnya bukanlah orang-orang Turki,  maka untuk itu mereka berusaha untuk bisa melepaskan diri dari kerajaan Turki  Usmani.
b.      Faktor Eksternal
Kebangkitan Eropa
Ketika kemunduran Kerajaan Turki Usmani pada periode pertengan dari sejarah Islam, negara-negara Eropa Barat sedang mengalami kemajuan pesat. Hal ini berbeda dengan masa Klasik Islam. Ketika Islam berada dalam kejayaan, eropa masih berada dalam kebodohan dan keterbelakangan seperti halnya negara terbelakang sekarang dan miskin dewasa ini di Asia dan Afrika.
Kemajuan Eropa sebenarnya bersumber dari khazanah ilmu pengetahuan dan metode berfikir rasional orang-orang islam. Sebagaimana deketahui, bahwa saluran tempat ilmu pengetahuan dan peradaban Eropa bersumber di Spanyol, dimana pada masa kejayaannya banyak pelajar-pelajar Eropa datang untuk menuntut ilmu pengetahuan di unuversitas-universitas di sana. Setelah mereka menamatkan sekolah, mereka kembali ke Eropa dan mendirikan universitas sebagaimana yang ada di dunia Islam. Dalam perkembangan selanjutnya mereka inilah yang melahirkan renaissance dan reformasi di Eropa.[37]
Abad ke 16 dan 17 M. merupakan abad yang penting dalam sejarah. Pada masa itu Eropa bangkit dengan segala kekuatan untuk mengejar keterbelakangannya pada zaman klasik. Orang-orang Eropa bangkit menyelidiki rahasia alam semesta, menaklukkan lautan dan menjajahi benua yang sebelumnya masih diliputi oleh kegelapan. Mereka membuat penemuan baru dalam segala lapangan ilmu dan seni serta dalam segala kehidupan..[38]
Dengan demikian factor-faktor diatas sejak abad XVI telah menjadi penyebab lemahnya Imperium Turki Usmani, satu demi satu wilayahnya lepas dan akhirnya Turki Usmani runtuh
41.              Pembaharuan Turki Usmani
Pada permulaan abad ke XVII, Turki Usmani mulai memperdebatkan cara terbaik bagi program restorasi integritas politik dan efektivitas kukuatan militer yang dimiki kerajaan. Para pembaharu pada awalnya berlandaskan kepada aturan yang digariskan Sultan Sulaiman yang menentang kemungkinan pengaruh kekuatan Kristen Eropa atas kaum Muslimin. Para modernis menganggap perlunya kekhilafahan Turki untuk mengadobsi metode yang dimiliki bangsa Eropa dalam pendidikan kemiliteran, organisasi dan administrasi untuk menciptakan suatu perubahan di bidang pendidikan, ekonomi dan social yang mendukung terbentuknya negara modern. Pada abad ke delapan belas dan terutama pada abad kesembilan belas, kelompok modernis muncul dengan terang-terangan, dan akhirnya menjadi pemenang.[39]
Sultan Salim III (1789-1807) memperkenalkan program pembaharuan yang pertama, dikenal dengan nama Nizam-i Jedid. Rencana pembaharuan itu meliputi pembentukan korp militer baru, perluasan system perpajakan dan pelatihan untuk mendidik para kaderbagi rezim baru. Rencana yang dikemukakan oleh Sultan Salim tidak mendapatkan dukungan dari para ulama dan kelompok militer Janissari, yang akhirnya ia menjadi korban rencana pembaharuan tersebut. Ia kemudian digulingkan pada tahun 1807. Meskipun demikian program pembaharuan tersebut dilakasanakan pada periode Sultan Mahmud II.
1.      Sultan Mahmud II (1808-1839)
Ketika ia naik tahta dan menjadi sultan di kerajaan Turki, Mahmud II memusatkan perhatiannya pada berbagai perubahan internal. Perubahan internal itu dipusatkan pada rekonstruksi kekuatan angkatan bersenjata sehingga menjadi kekuatan yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan. Selain itu perbaikan tersebut dimaksudkan untuk mengkonsolidasi seluruh potensi local. Pada tahun 1826, ia merombak Janissari menjadi kekuatan militer model Eropa. Kebijakan ini akhirnya diprotes oleh Janissari yang telah berdiri pada abad keempat belas oleh Sultan Orkhan.[40]
Sentralisasi kekuatan yang menjadi program utama Sultan Mahmud II secara beransur-ansur dilaksanakan. Sistem militer lama lenyap secara total pada tahun 1831 bersamaan dengan dihapusnya system feodal, timar. Kekuatan militer baru menjadi semakin loyal terhadap sultan dan menjadi alat proses sentralisasi politik dan menjadi pendorong proses modernisasi. Selanjutnya yang dilakukannya adalah tetap menjalin hubungan damai dengan kekuatan asing di Eropa.
Selain itu administrasi pusat juga dibenahi. System kementrian medel Eropa di perkenalkan dan seluruh menteri bertanggung jawab kepada seorang perdana menteri. Selain itu untuk membantu dalam meletakkan dasar strategi perencanaan jangka panjang ia mendirikan sebuah lembaga legislative dan dikenal dengan meclis-i Ahkam-i Adliye pada 1838. Begitu juga dibuka lembaga penerjemahan pada tahun 1833. Kedutaan Besar kerajaan Turki di berbagai negara asing dibuka kembali.[41]
Kekuatan militer dan system administrasi yang telah diperbaharui tersebut pada gilirannya menjadi ujung tombak bagi perluasan kekuasaan Sultan terhadap beberapa penguasa wilayah taklukan yang hendak memerdekakan diri, dan memperkokoh kekuatan politik kerajaan.
2.         Tanzimat
Tanzimat atau dalam bahasa Turki dikenal dengan Tanzimat-i Khairiye adalah gerakan pembaharu di Turki yang dikenalkan kedalam system birokrasi dan pemerintahan Turki Usmani semenjak pemerintahan Abd al-Majid (1839-1861), putra sultan Mahmud II, dan Sultan Abd al-Aziz (1861-1876). Pembaharuan tersebut dimulai dengan diumumkannya deklarasi Gulkhane, Katti-i Syerif Gulkhane, pada tanggal 3 November 1839. Tanzimat ini ditindak lanjuti oleh Khatt-i Humayun yang diumumkan pada tanggal 18 Pebruari 1856.[42]
Deklarasi Gulkhane yang dimaksudkan untuk melakukan reorganisasi secara structural dan konprehensif atas rezim lama. Deklarasi tersebut mempunyai dua tujuan yang bersamaan; pertama, untuk memenuhi keinginan kekuatan-kekuatan bangsa Eropa, yang secara serius telah melakukan intervensi dalam beberapa urusan dalam negeri Turki sebagai pemecahan krisis Yunani. Kedua, untuk menumbuhkan rasa percaya diri pemerintahan dalam negeri.
Periode tanzimat diwanai dengan sentralisasi kekuasaan negara dan pengenalan norma-norma modern Eropa. Untuk mengenalkan norma-norma modern Eropa itu, kaidah-kaidah hukum Eropa diperkenalkan dengan intensif, beberapa mahasiswa dikirim untuk belajar ke Eropa, dan bahkan para pejabat militer dididik di sana atau di Turki di bawah bimbingan instruktur Eropa.[43] 
3.         Usmani Muda
Kelompok intelektuan yang dikenal dengan Usmani Muda, Young Ottomans, merupakan sebuah komunitas yang telah mengadakan pertemuan di Paris dan London antara tahun 1867-1871 yang telah mengenyam berbagai pelatihan birokrasi dan menguasai ide-ide Barat. Pandagan politik mereka banyak dipengaruhi oleh faham sekular dan revolusioner terhadap ajaran Islam tradisional. Di antara tokoh Usmani Muda adalah Namik Kemal dan Midhat Pasya.[44]
Bersama Midhat Pasya dan Ziya Pasya, Namik Kemal menyiapkan perundang-undangan dan proses liberalisasi. Untuk mewujudkan peradaban Islam yang benar dengan ide pan Islam yang kuat, ia mengajak untuk kembali kepada ajaran Islam salaf dan menolak ajaran Islam lama yang tidak memuaskannya. Ia juga yang pertama mengenalkan kepada bangsa Turki konsep tanah air, wathan, konsep negara, milet, dan konsep kebebasan, hurriyet. Ketiga konsep tersebut menjadi jargon para pendukun Turki Muda.
4.      Turki Muda
Diantara tokoh Turki Muda adalah Murad Bey (1853-1912), Ahmad Reza (1859-1931) dan Pangeran Sabahuddin (1877-1948). Murad Bey, dalam pandangannya, sebab kemunduran Turki Usmani bukanlah disebabkan ajaran Islam yang diadopsinya, bukan juga rakyatnya, akan tetapi yang menjadi penyebab kemunduran Turki Usmani adalah absolutisme kekuasaan sultan. Untuk itu, kekuatan sultan harus dibatasi, dan selanjutnya ia mengatakan bahwa seharusnya Turki mengadopsi system kenstitusional Barat ya, karena system tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Untuk mengadakan konsolidasi politik di wilayah Kekuasaan Turki, ia menyodorkan faham Pan-Islam yang akan mengikat wilayah kekuasaan Turki dalam satu kesatuan agama, Islam.
Ahmad Reza berpendapat bahwa penyebab kesengsaraan rakyat bukan saja disebab oleh rendahnya teknologi. Tetapi lebih banyak oleh lemahnya system birokrasi yang ada. Dalam perjalanan intelektualnya ia berkesimpulan bahwa diantara cara untuk menjaga keruntuhan Turki Usmani adalah dengan meningkatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Dalam pandangan Sabahuddin, ia mengiginkan proses desentralisasi kekuasaan dan campur tangan kekuatan asing untuk membantu proses reformasi di Turki. Dan ia berpandangan bahwa keperluan mendesak saat itu bagi masyarakat Turki bukanlah sebuah reformasi politik melainkan sebuah revolusi social. Sebagaimana Ahmad Reza, ia berpendapat bahwa jalan yang ditempuh untuk melakukan revolusi social tersebut adalah pendidikan.
5.      Mustafa Kemal Ataturk
Tokoh utama gerakan nasionelisme Turki adalah Mustafa Kemal, tetapi ia bukan satu-satunya pemikir yang melahirkan idiologi nasionalisme Turki. Mustafa Kemal sendiri medapatkan inspirasi dari para tokoh Usmani Muda dan Turki Muda yang merupakan produk dari kebijakan reorganisasi yang dicanangkan oleh sultan Mahmud II. Di antara pemikir Turki yang meletakkan dasar semagat nasionalisme adalah Yusuf Akcura (1876-1933) dan Zia Gokalp (1875-1924).
Mustafa Kemal Pasya, yang kemudian dikenal dengan Kemal Ataturk, di Anatolia, ia bekerja giat untuk mewujudkan cita-citanya, yaitu mewujudkan negara Turki yang modern. Di kota tersebut ia berkiprah di Association for the Defence of the Right of Eastern Anatolia, sebuah gerakan untuk mempertahankan hak-hak masyarakat Anatolia Timur dan didirikan di Erzurum 3 Maret 1919. Asosiasi ini kemudian hari meluas menjadi asosiasi pembebasan masyarakat Anatolia dan Rumella dan Mustafa Kemal menjadi ketuanya.
Dengan ditandatanganinya perjanjian Lausanne tanggal 24 Juli 1923, maka secara internasional Pakta Nasional Turki diakui. Berdasarkan kesepakatan Grand Nasional Assembly, disebutkan bahwa yang menjadi penguasa adalah mereka yang menjadi perwakilan rakyat.
Pada tanggal 6 Desember 1922, Mustafa Kemal mendirikan Partai Rakyat dan mengundang seluruh kalangan terpelajar untuk berkomunikasi lansung dengannya. Pada tanggal 16 April 1923 Grand Nasional Assembly membubarkan diri dan mempersiapkan pengadaan pemilu. Anggota Assembly baru hasil pemilu memiliki anggota 286 dan pada taggal 11 Agustus 1923 memilih Mustafa Kemal sebagai presiden dan Fethi sebagai perdana mentri. Dengan ini negara baru Turki berdiri tidak atas dasar dinasti, kerajaan, maupun agama melainkan atas dasar nation (bangsa) dengan ibukota ditengah-tengah negara Turki, yakni Ankara.
Pada tanggal 3 Maret 1924, Grand Naional Assembly, secara resmi menghapus lembaga Kesultanan dan Khilafah. Tidak lama kemudian kebijaksanaan hari libur nasional dirubah dari hari jum’at ke hari Minggu, dan keluar peraturan keharusan memakai busana Barat.[45]  

42.              Penutup
1.      Kesimpulan
Bangsa Turki Usmani mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan kebudayaan Islam dan menyebarkan Islam keseluruh penjuru dunia. Dengan kekuatan dan ketangguhan militernya serta kemapanan ekonominya dan peran para Sultan atau Khalifah kuat telah membawa Islam kembali menjadi adikuasa dunia setelah diporak porandakan oleh pasukan Mongol. Pada masa kekhilafahan Turki Usmani inilah sabda Rasul telah terbukti, bahwa akan ditaklukkannya kota Konstantinopel dimana amir dan pasukannya merupakan pasukan terbaik, yaitu pada masa sultan Muhammad al-Fatih tepatnya pada tahun 1453.
Namun dalam perkembangan selanjutnya setelah sultan Sulaiman al-Qanuni mengalami kemunduran karena rusaknya pemahaman keislaman serta buruknya penerapan syariat islam ditambah dengan Turki Usmani dipimpin oleh para sultan yang lemah. Disamping itu bangsa-bangsa Eropa mengalami kemajuan dalam segala aspek dan terus berupaya untuk menghancurkan kekhilafahan Turki Usmani baik dengan kekuatan militer maupun dengan menanakan pemikiran dan ide-ide Barat ke dalam dunia Islam. Dan akhirnya dengan ide nasionalisme mereka berhasil menghancurkan dan menghapus kesultanan atau kekhilafan Turki Usmani dan merubah Turki menjadi Negara Republik Turki.
2.      Saran
Tak ada gading yang tak retak dan tak ada manusia yang luput dari kesalahn. Sungguh makalah ini tidak terlepas dari kekuragan, maka masukan dan kritikan dari pembaca akan menyampurnakan makalah ini. Atas masukannya Jazakallahu khairan katsira


[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), h. 129
[2] Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ikhtiar Van Hoeve, 1994)
[3] Syafik A. Mughani, Sejarah Kebudayaan Islam di Kawasan Turki, (Jakarta, Logos Wacr Ilmu, 1997), h. 51
[4] Ibid., h. 52
[5] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban dikawasn Dunia Islam, (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2004), h. 182-183
[6]Syafiq A. Mughni, Op.cit, h. 54-67
[7] Ibid., h. 132
[8] Firdaus, Negara Adikuasa Islam, (Padang, IAIN Imam Bonjol Press, 2000), h. 18
[9]Ibid, h. 19
[10]Ibid, h. 20
[11] Ahmad Salabi, Imperium Turki Usmani, (Jakarta: Kalam Mulia, 1988), h. 40-41
[12]Ahmad Syalabi, loc.cit
[13] Badri Yatim, op.cit., h. 136
[14]Ahmad Salabi, Imperium Turki Usmani, (Jakarta: Kalam Mulia, 1988), h. 39
[15]Firdaus, op.cit, h. 25
[16] Firdaus, Negara Adikuasa Islam, (Padang : IAIN IB Press, 2000) h. 36
[17]Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, ( Jakarta: UI-Press, 1985), h. 87
[18]Hasan Ibrahim Hasan, Sejarah Kebudayaan Islam, ( Yogyakarta: Kota Kembang, 1989), h. 340
[19]Syafiq A. Mughni, Sejarah Kebudayaan Islam di Turki, (Jakarta: Logos, 1997), h. 114
[20] Ahmad Salabi, Imperium Turki Usmani, (Jakarta: Kalam Mulia, 1988), h. 68
[21]Firdaus , op.cit, h.39.
[22]Ibid, h. 40
[23]Firdaus , log.cit 
[24] Ahmad Salabi, op.cit, h. 79
[25] Syafiq A. Mughni, op.cit, h. 93
[26]Akbar S. Ahmad, Citra Muslim, ( Jakarta: Erlangga, 1992),h. 73
[27]Harun Nasution, op.cit, h. 53
[28]Firdaus, op.cit, h. 44
[29]Harun Nasution, op.cit, h. 84
[30] Syafiq A. Mughni, op.cit, h. 103
[31]Ahmad Syalabi, op.cit, h.51
[32]Ibid, h. 36
[33]Firdaus, op.cit, h. 47 . lihat juga Mukti Ali, Islam dan Sekularisme di Turki Modern, (Jakarta: Djambatan, 1994), h. 30-31
[34]Ibid, h. 48
[35]Ahmad Syalabi, op.cit. h. 55
[36]Firdauf, loc.cit
[37]Harun Nasution, op.cit, 104-105
[38]Firdaus, op.cit, h. 50
[39] Syafiq A. Mughni, op.cit, h. 121
[40]Ibid, h. 123
[41]Ibid, h. 124
[42]Ibid, h. 126
[43]Ibid, h.129
[44]Ibid, h. 132
[45]Ibid, 148-149

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar